Alza Munzi Hipni/Jurnalis di Pangkalpinang
JURNALINDONESIA.CO – Apa yang terlintas ketika mendengar nama Batara dalam konteks kekinian dan kelokalan di Bangka Belitung?
Tidak lain dan tidak bukan adalah sosok pria bertato, yang kini mewarnai media sosial dan media online.
Nama Batara seperti tiba-tiba muncul, ada begitu saja di riak-riak kehidupan.
Padahal sebelumnya, nama Batara sering terpelesetkan dengan sebutan Barata, sebuah pusat perbelanjaan di Pangkalpinang yang kini telah tutup.
Pastinya beda antara Batara dan Barata, meski hampir mirip dari segi pengucapan.
Suka atau tidak suka, nama Batara kini sudah terindeks dalam mesin pencari google.
Ketika nama Batara diketik, muncul berita tentang dirinya.
Padahal, sebulan atau apalagi jauh sebelumnya, belum ada keterangan yang spesifik menjelaskan tentang sosok Batara di Bangka Belitung.
Mesin pencari pertama kali mengarahkan Batara ke wikipedia, yang menulis tentang arti nama tersebut.
Lalu tentang sebuah desa di Kabupaten Pangkajane dan Kepulauan, Sulawesi Selatan bernama Batara.
Sedikit tentang Batara atau Bhatara dalam konteks kebudayaan Hindu adalah gelar untuk dewa-dewi.
Atau bisa saja sebutan untuk seseorang yang dimuliakan atau dihormati.
Kini, nama Batara di Bangka Belitung menyempil di antara indeks google.
Di media sosial, Batara juga tahu betul caranya viral dan menyita perhatian publik.
Dia layaknya seorang influencer yang membranding dirinya sendiri.
Lihat saja ketika dirinya tampil di publik, bertopi koboi, baju kaus hitam, dengan memperlihatkan tato di lengan dan wajahnya.
Beberapa kali terlihat, Batara konsisten melakukan itu, entah sengaja atau tidak.
Di ruang media sosial, namanya pun disebut netizen menjadi Bang Tato.
Trending
Terlepas dari kontroversi sosok Batara, dunia digital telah mengubah banyak hal hari-hari ini.
Aplikasi medsos bernama TikTok menjadi salah satu katalisatornya.
Sistem algoritma TikTok pada konten yang relevan dan personal, membuat seseorang mudah viral.
Media massa berbasis online kini harus berkejar-kejaran dengan media sosial.
Publik mencari informasi yang cepat di media sosial meski belum tentu benar.
Sementara media massa wajib memberikan informasi yang benar, akurat, dan terverifikasi.
Lalu bagaimana dengan fenomena Batara yang kini secara tak sadar menciptakan keterbelahan sosial.
Apa saja informasi dan berita tentang Batara, di ruang komentar netizen muncul pro dan kontra.
Misalnya saja ketika Batara jauh-jauh datang dari Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, sengaja katanya mengamen di depan Pengadilan Negeri Pangkalpinang.













