JURNALINDONESIA.CO – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengeklaim pasukan elite militer AS telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores.
Penangkapan itu dilakukan di kediaman Maduro di Caracas, Sabtu (3/1/2026) dini hari.
Unit Delta Force dari Angkatan Darat AS disebut-sebut menangkap Maduro.
Maduro dan istri, disebut ditangkap saat tengah malam tanpa perlawanan berarti.
Trump mengatakan Maduro dibawa menuju New York menggunakan kapal induk USS Iwo Jima.
“Ya, Iwo Jima, mereka berada di atas kapal,” kata Trump dalam wawancara telepon dengan Fox News, Sabtu pagi waktu setempat dikutip melalui Kompas.com.
“Helikopter membawa mereka keluar, dan mereka pergi dalam penerbangan yang menyenangkan—saya yakin mereka menyukainya. Tapi mereka, mereka membunuh banyak orang, ingat itu,” tambahnya.
Presiden Trump mengeklaim memantau seluruh jalannya operasi melalui ruang kendali di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Florida, didampingi oleh sejumlah jenderal tinggi.
Trump memuji efektivitas manuver militer tersebut yang dianggapnya sangat kompleks.
“Saya diberitahu oleh orang-orang militer bahwa tidak ada negara lain di dunia ini yang bisa melakukan manuver seperti itu,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa pasukan AS berhasil menembus pengamanan pintu baja yang dirancang khusus untuk melindungi Maduro.
“Kalau Anda lihat kecepatan dan kekerasannya—begitulah istilahnya—itu sungguh luar biasa. Pekerjaan luar biasa dari orang-orang ini,” jelas Trump.
Tuduhan terhadap Maduro
AS menuding pria berusia 63 tahun tersebut memimpin negara berbasis narkoba (narco-state) dan memanipulasi hasil Pemilu 2024.
Beberapa poin utama yang menjadi dasar target operasi ini meliputi:
Perdagangan Narkoba: Tuduhan keterlibatan dalam perdagangan kokain internasional dan krisis fentanil di AS.
Organisasi Terlarang: Kaitan Maduro dengan kelompok Tren de Aragua dan Cartel de los Soles.
Legitimasi Politik: Penolakan AS terhadap hasil pemilu Venezuela yang dianggap tidak demokratis.













