Untuk itu sebagian besar wilayah Barat Indonesia, termasuk Sumatera tidak relevan, karena terdapat patahan vulkanik, begitu juga pulau Jawa, Bali, sampai Sulawesi.
Sehingga, daerah yang paling aman secara geologis, yakni di Kalimantan bagian Barat dan Bangka Belitung.
“Pertimbangan demografi dan kebutuhan listrik di wilayah tersebut, mengingat penduduk kita 1,5 juta, tapi mempunyai jaringan interkoneksi ke Sumatera, maka pembangunan PLTN di Bangka Belitung tidak akan membuat adanya daya berlebih, karena bisa disalurkan ke Sumatera yang kebutuhan listrik sangat tinggi.
Jadi selain selain secara demografi cocok, posisi Bangka Belitung sangat strategis,” jelasnya.
Mengenai faktor keamanan, dia mengurai soal rekomendasi Kemenko Marves dan dilanjutkan survei.
“Pada tahun ini sudah ada regulasi yang dibuat, itu bisa ditentukan bulan September, sudah ditentukan lokasi di mana PLTN ini bisa dibangun, dalam ketentuan disebutkan antara Sumatera dan Bangka, bunyinya seperti itu,” katanya.
Lalu, berdasarkan hasil survei BATAN dan BRIN, lokasi di Bangka Barat dan Bangka Barat yang berpotensi dibangun PLTN.
Namun diputuskan di Pulau Kelasa.
Terkait rencana PLTN di Pulau Kelasa, diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), yang harus memenuhi 19 rekomendasi.
Di antaranya penerimaan masyarakat, meski tidak harus 100 persen.
Menurut Dhita, pemerintah dan swasta wajib melakukan sosialisasi.
“Kami sudah lakukan sebelum 2021, setelah itu kita terus melakukan edukasi, FGD kemudian CSR,” terang Dhita. (*)













