Tantangan itu antara lain rendahnya kepedulian generasi muda terhadap isu kebangsaan, mudah terprovokasi penyebaran hoaks, hingga lemahnya ketahanan informasi.
“Dalam perjalanan demokrasi kita, tantangan terbesar pemuda bukan sekadar kemiskinan atau pengangguran, tetapi kemalasan berpikir dan sikap apatis.
Jangan malas untuk peduli pada lingkungan sosial dan bangsa,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan pemuda agar tidak mudah diadu domba oleh isu politik yang
memecah belah.
Menurutnya, perbedaan pilihan politik adalah hal yang wajar, tetapi tetap harus dijaga dalam bingkai persatuan bangsa.
“Pemuda jangan mudah dimanfaatkan oleh kepentingan pragmatis. Jangan terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.
Bijaklah dalam menyikapi situasi, terutama dalam dinamika politik dan demokrasi saat ini,” tegas Osykar.
EM Osykar juga menghubungkan pesan Sumpah Pemuda dengan hasil evaluasi
terhadap penyelenggaraan pesta demokrasi.
Ia menekankan bahwa pemuda harus menjadi bagian dari solusi dalam menjaga kualitas demokrasi.
“Bawaslu terus mendorong pengawasan partisipatif, dan pemuda adalah kekuatan besar dalam hal itu.
Demokrasi yang berintegritas hanya bisa terwujud jika generasi muda ikut mengawalnya secara kritis, cerdas, dan beretika,” ujarnya.
Menutup pesannya, Ketua Bawaslu Babel mengajak seluruh pemuda Bangka Belitung
untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan dan pengabdian bagi bangsa.
“Bangsa ini membutuhkan pemuda yang jujur, berani, dan peduli. Semangat Sumpah
Pemuda harus kita jaga sebagai kompas moral dalam kehidupan bermasyarakat dan
berbangsa. Demi Indonesia yang lebih kuat, demokratis, dan bermartabat,” pungkas EM Osykar. (*)













