banner 728x90

HASIL Survei Elekta Research Center Uniper Terbaru: Elektabilitas Molen-Zeki Tertinggi, Unggul 3,2 Persen

Mahasiswa Uniper diterjunkan untuk survei elektabilitas calon Pilkada Ulang Pangkalpinang 2025. Foto: Istimewa
banner 120x600
banner 468x60

JURNALINDONESIA.CO – Elekta Research Center Universitas Pertiba (Uniper) merilis hasil survei jelang Pilkada Ulang Pangkalpinang 2025.

Survei dilakukan tanggal 4-5 Agustus 2025, di 42 kelurahan di Kota Pangkalpinang.

banner 325x300

Ada 939 responden yang diambil sampel berdasarkan data daftar pemilih tetap (DPT) hingga tingkat RT.

Hasilnya, warga antusias akan melakukan pencoblosan tanggal 27 Agustus 2025, yakni mencapai 85,94 persen.

“Tingkat partisipasi yang menggembirakan,” kata Direktur Elekta Research Center, Divo Dharma Silalahi, PhD melalui rilis kepada wartawan, Rabu (6/8/2025).

Elekta Research Center memilih responden berdasarkan metode multistage random sampling.

Tingkat kepercayaan survei sebesar 95 persen dengan margin of error ±3,2 persen.

Selain tingkat partisipasi, survei juga menyasar elektabilitas pasangan calon.

Hasil survei menunjukkan pasangan calon Maulan Aklil (Molen)-Zeki Yamani dan Udin-Dessy, merupakan dua kandidat terkuat.

Dua paslon ini memiliki tingkat elektabilitas di atas rata-rata (skor 6,04 pada skala 1–10), dengan Molen-Zeki unggul sekitar 3,2 persen dari Udin-Dessy.

Berbeda dengan pasangan Basit-Dede dan Eka-Radmida, masih tertinggal jauh dari dua paslon lainnya.

Catatan lainnya, meski elektabilitas calon teratas cukup tinggi, dari hasil survei diketahui masih lemahnya sosialisasi pasangan calon kepada masyarakat.

Elekta Research Center mencatat, sebanyak 73,63 persen responden tahu paslon dan nomor urut, namun 26,37 persen belum dapat informasi tersebut.

Tingkat popularitas paslon juga belum merata.

Hanya 66,13 persen responden mengenali seluruh kandidat, sementara 33,87 persen belum tahu siapa saja yang maju dalam Pilkada Ulang Pangkalpinang.

Lalu, hanya 23,75 persen warga mengaku pernah melihat kegiatan kampanye, 44,41 persen tidak pernah melihat sama sekali, dan 31,84 persen menyatakan tidak tahu.

Hasil survei mengungkapisu suku, agama, dan asal daerah calon masih memengaruhi preferensi pemilih.

Sebanyak 48,99 persen responden mengaku mempertimbangkan faktor tersebut, meski mayoritas (51,01 persen) menyatakan tidak terpengaruh.

Dalam aspek figur, mayoritas responden (76,14 persen) menilai bahwa baik calon wali kota maupun wakil wali kota sama pentingnya.

Namun, 17,89 persen lebih memprioritaskan figur wali kota, dan 5,97 persen memilih berdasarkan figur wakil wali kota.

Terkait pengaruh dukungan partai politik, responden terbelah hampir seimbang.

Sebanyak 50,69 persen menyebut tidak terpengaruh, sementara 49,31 persen mengaku mempertimbangkan dukungan partai.

Termasuk pengaruh tokoh masyarakat, agama, atau politik.

Sebanyak 53,04 persen responden menyatakan tidak terpengaruh, namun 46,96 persen lainnya bisa berubah pilihan karena dukungan tokoh tertentu.

Sebanyak 71,99 persen warga mengaku merasakan dampak positif dari pemerintahan sebelumnya, khususnya dalam bidang investasi, perdagangan, hiburan, UMKM, transportasi, rumah ibadah, dan lapangan kerja.

Bahkan, 79,34 persen responden menilai kinerja mantan Wali Kota Pangkalpinang, Maulan Aklil (Molen), sebagai cukup baik.

Namun demikian, masyarakat tetap menyoroti sejumlah persoalan krusial yang dianggap mendesak untuk dibenahi.

Sepuluh isu utama yang paling banyak disebut adalah:

1. Lapangan kerja

2. Harga kebutuhan pokok

3. Pengelolaan sampah

4. Pendidikan

5. Bantuan sosial

6. Infrastruktur jalan

7. Korupsi dan KKN

8. Pengembangan wirausaha

9. Keamanan dan ketertiban

10. Pungutan parkir

Divo Dharma mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap survei fiktif yang tidak kredibel.

Dia menegaskan hanya dua lembaga yang resmi terdaftar di KPU Kota Pangkalpinang untuk menyelenggarakan survei dan hitung cepat (quick count) Pilkada Ulang 2025.

Pihaknya mengacu pada Keputusan KPU Kota Pangkalpinang Nomor 111 Tahun 2025.

“Lembaga yang sah hanyalah Elekta Research Center UNIPER dan Poltracking Indonesia,” kata Divo.

Elekta Research Center merupakan satu-satunya lembaga survei independen berbasis kampus di Pangkalpinang.

Lembaga suvei ini digawangi para akademisi dan profesional dari berbagai disiplin ilmu, khususnya statistika. (*)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses