banner 728x90

Menteri Abdul Mu’ti Ungkap Indonesia Kekurangan 561 Ribu Guru

Avatar
Mendikdasmen RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti hadir dalam wisuda Universitas Muhammadiyah Babel, Kamis (2/7/2026). Foto: JI/Mita
banner 468x60

PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, mengajak lulusan Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (UnMuh Babel) untuk mengambil peran dalam mewujudkan pendidikan bermutu bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Menurutnya, hingga kini Indonesia masih menghadapi kesenjangan akses pendidikan dan kekurangan sekitar 561 ribu guru di berbagai daerah.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Angkatan XVII Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung di Auditorium Sofyan Tsauri, Kamis (2/7/2026).

Abdul Mu’ti mengatakan, masih banyak anak-anak Indonesia yang belum memperoleh layanan pendidikan secara optimal karena berbagai faktor, mulai dari keterbatasan ekonomi, kondisi geografis, disabilitas, hingga persoalan sosial dan budaya.

“Karena itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berkomitmen mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua sebagai bagian dari pelaksanaan amanat konstitusi dan Asta Cita Presiden untuk membangun sumber daya manusia yang unggul,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah terus memperluas akses pendidikan melalui berbagai program, di antaranya pengembangan Sekolah Satu Atap di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), layanan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sekolah terbuka, hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Selain itu, pemerintah juga menghadirkan layanan pendidikan yang lebih fleksibel melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal, termasuk program kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C agar masyarakat tetap memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan.

Di bidang pembiayaan, Abdul Mu’ti menyebut pemerintah memperluas Program Indonesia Pintar (PIP).

Tahun ini, bantuan tersebut bahkan mulai diberikan kepada peserta didik taman kanak-kanak sebagai bagian dari dukungan terhadap program wajib belajar 13 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses