JURNALINDONESIA.CO – Di tengah riuhnya diskusi global mengenai ketahanan iklim di Claro Hotel, Kendari, ada langkah sunyi namun strategis yang sedang disusun oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang.
Bukan sekadar menghadiri seremonial, delegasi Kota Pangkal Kemenangan ini justru sedang “menjemput bola” melintasi batas negara.
Di sela-sela forum UCLG ASPAC Executive Bureau 2026, Jumat (8/5/2026), Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, bersama Wakil Wali Kota Dessy Ayutrisna, tampak intens berdialog dengan delegasi dari Kota Xi’an, Tiongkok.
Pertemuan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan penjajakan serius untuk memboyong teknologi masa depan ke tanah Bangka.
Belajar dari Kota Tua yang Modern
Pangkalpinang sadar betul bahwa membangun kota tidak bisa sendirian.
Xi’an dipilih bukan tanpa alasan.
Kota di Tiongkok ini dikenal mahir mengawinkan warisan sejarah dengan teknologi smart city.
Bagi Pangkalpinang, Xi’an adalah cermin untuk melihat bagaimana teknologi digital bisa menyelamatkan lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi pesisir.
“Kami datang dengan niat spesifik. Fokus utama kami adalah membangun kemitraan yang mampu menjawab tantangan lingkungan melalui teknologi digital,” ujar Wakil Wali Kota, Dessy Ayutrisna, dengan nada optimistis saat membuka dialog.
Menjawab Krisis Sampah
Satu isu yang menjadi “pekerjaan rumah” besar bagi Pangkalpinang adalah tumpukan sampah yang mencapai 154,3 ton per hari.
Dengan TPA yang mulai jenuh, Pangkalpinang melirik keunggulan Xi’an dalam sistem Waste-to-Energy atau pengolahan sampah menjadi energi.
Targetnya ambisius, Pangkalpinang ingin mencapai zero open dumping pada tahun 2027.













