JURNALINDONESIA.CO – Pilkada Ulang Pangkalpinang 2025, diikuti empat pasangan calon (paslon).
Paslon itu adalah nomor urut 1 Eka Mulya Putra dan Radmida Dawam, nomor urut 2 Maulan Aklil (Molen) dan Zeki Yamani, nomor urut 3 Saparudin dan Dessy Ayutrisna, serta nomor urut 4 Basit Sucipto dan Dede Purnama.
Sementara, Molen dan Zeki Yamani mendapat dukungan kelompok milenial dan gen Z di Kota Pangkalpinang.
Bagi para generasi muda ini, pasangan dengan tagline HARMONI, Harus Molen-Zeki Yamani telah membuktikan bisa bekerja untuk masyarakat Pangkalpinang.
Molen saat menjadi Wali Kota Pangkalpinang 2018-2023, telah membantu UMKM, membangun fasilitas umum, menghidupkan kreatifitas anak muda, dan akses pendidikan dan kesehatan semakin baik.
Molen-Zeki dinilai sebagai figur yang tidak hanya berpengalaman, tetapi juga memiliki semangat muda dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan generasi saat ini.
Tiga anak muda di Kota Pangkalpinang, yakni Dinda Febiola (21), warga Gabek, bersama Ayu (26) dan Nanda (26), menyampaikan secara langsung pandangan mereka terkait sosok Molen dan Zeki.
Mereka menilai Molen sebagai pemimpin yang telah bertransformasi dan tumbuh bersama masyarakat, khususnya kalangan muda.
“Kami sebagai masyarakat milenial ingin Kota Pangkalpinang dan Bangka Belitung secara umum menjadi lebih maju. Menurut kami, pasangan Molen-Zeki adalah simbol dari harmoni, dedikasi, dan semangat kolaboratif. Lebih inovatif, lebih sportif, dan tentu saja lebih keren. Lah terbukti begawe,” ungkap Dinda, Rabu (23/7/2025) malam yang secara sukarela datang ke Aston Emidary Bangka Hotel & Conference Center, Jumat (25/7/2025).
Dia hadir dalam acara penetapan nomor urut paslon di Pilkada Ulang yang digelar KPU Pangkalpinang.
Yang menarik, meski dikenal sebagai sosok senior, Molen dinilai tetap mampu menjaga jiwa muda dalam setiap langkah dan kebijakan yang ia ambil.
“Pak Molen itu walaupun usianya tidak muda lagi, tapi jiwanya tetap milenial. Ia mengerti kami, mengerti dunia kami,” tambah Ayu.
Tak hanya soal gaya kepemimpinan, para milenial ini juga menyoroti perubahan sikap Molen yang menurut mereka semakin rendah hati setelah kekalahan dalam kontestasi sebelumnya.
“Dulu memang sempat terlihat sombong, tapi sekarang Pak Molen lebih santai, lebih membumi. Kekalahan itu menyadarkan beliau, dan kami melihat perubahan itu dengan mata kepala sendiri. Itu yang membuat kami tersentuh,” ungkap Nanda.
Transformasi ini dinilai mencerminkan sikap dewasa seorang pemimpin yang mau belajar dari pengalaman dan mendengar suara rakyatnya.
Di sisi lain, perkembangan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata juga menjadi indikator nyata keberhasilan kepemimpinan Molen.
Mereka mencatat bahwa jumlah UMKM di Pangkalpinang mengalami pertumbuhan signifikan selama periode kepemimpinannya.
“UMKM berkembang pesat. Banyak tempat nongkrong baru, spot wisata yang Instagramable. Itu hasil dari keberpihakan beliau terhadap pelaku usaha kecil dan industri kreatif,” tambah Dinda.
Dukungan ini menegaskan bahwa pasangan Molen-Zeki bukan hanya mendapatkan simpati dari kalangan tua atau elite politik, tetapi juga dari generasi muda yang selama ini kerap merasa terpinggirkan dalam proses pembangunan.
“Kami ingin dipimpin oleh tokoh yang paham anak muda. Kami ingin pemimpin yang tidak hanya bicara masa lalu, tapi juga membangun masa depan,” ungkap ketiganya.