banner 728x90

Misteri Kematian Diplomat Arya Daru, Pihak Keluarga Beberkan Fakta-fakta Lain

Potret Arya Daru bersama istrinya. Foto: Istimewa
banner 120x600
banner 468x60

JURNALINDONESIA.CO – Kematian diplomat Arya Daru Pangayunan (39) masih menjadi misteri.

Apakah PNS Kementerian Luar Negeri ini dibunuh atau bunuh diri.

banner 325x300

Polisi sudah menyatakan Arya bunuh diri, dengan cara melilitkan wajahnya dengan lakban secara rapi dan erat.

Namun, pihak keluarga berpendapat lain.

Arya Daru tidak mungkin melakukan bunuh diri, karena tidak ada masalah apapun selama ini.

Kuasa Hukum keluarga Arya, Nicholay Aprilindo mengklaim akun Instagram milik Daru sempat aktif beberapa waktu lalu.

Selain itu, aplikasi WhatsApp milik Daru juga diklaim aktif setelah pihak keluarga mengirim pesan singkat.

Keaktifan aplikasi ini ditandai dengan centang dua pada pesan terkirim.

“Ini jadi misteri juga, dikatakan hp-nya hilang, tapi kok bisa ada on (aktif) di IG, dan centang dua (di WhatsApp),” katanya dalam konferensi pers di Yogyakarta, Sabtu (23/8/2025).

Selain itu, pihak keluarga tak percaya Daru meninggal karena bunuh diri.

Kata Nicholay, sebelum meninggal ia sudah merencanakan kedua anaknya untuk sekolah ke Finlandia, tempat ia akan ditugaskan.

Ia menambahkan, Daru dan istrinya juga sudah mempersiapkan segala hal untuk dibawa serta, termasuk memboyong kedua orang tuanya, dan ayah mertuanya.

Semua sudah diurus paspornya.

“Bagaimana orang yang promosi jabatan, mempersiapkan segala sesuatunya ke Finlandia.

Masak dia meninggalkan semua hal dengan bunuh diri. Tidak masuk akal sehat, ini tidak waras,” kata Nicholay seperti dikutip Detik.

Pihak kuasa hukum juga membeberkan detik-detik sebelum Daru ditemukan tak bernyawa.

Biasanya, kata pihak pengacara, Daru menghubungi istrinya, Pita, apabila sudah pulang kerja atau pun pulang telat. Selambat-lambatnya pukul 19.30 WIB.

Namun pada malam 7 Juli 2025, sekitar pukul 20.00 WIB, Daru tidak memberi kabar ke Pita.

Pukul 20.40, Daru mengirim foto keadaan antrean taksi di mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat. Setelah itu, ponselnya tidak aktif.

Kronologi versi keluarga

Senin, 7 Juli 2025

21.20 – Pita (istri Daru) tidak dapat menghubungi suaminya, Daru karena WA tidak aktif dan centang satu.

Pita menghubungi penjaga kos, setelah itu Pita sudah tidak bisa menghubungi Daru.

22.23-25 : Nomor Siswanto tidak bisa menerima pesan teks atau telepon WhatsApp.

Selasa, 8 Juli 2025

00.14 – Pita inisiatif menelpon Polsek Menteng sebanyak tujuh kali. Tidak ada respons.

00.30 – Pita menghubungi penjaga kos dengan menelpon langsung ke nomor ponselnya, ternyata bisa diangkat.

Pita menjelaskan pada penjaga kos untuk mengecek kamar Daru.

05.00 – Pita menghubungi penjaga kos untuk mengecek kembali kamar Daru dan saat itu kata penjaga kos ‘kondisi kamar Daru masih gelap’, dan pejaga kos mengatakan akan dicek kembali pada saat Daru akan berangkat kerja, antara pukul 07.00-07.30.

06.00 – Pita kembali meminta penjaga kos mengecek kamar Daru.

07.00 – Penjaga kos mengirim pesan kepada saksi, karena nomor Daru saat dihubungi penjaga kos ini tidak aktif.

07.30 – Pejaga kos mengecek kamar daru dan diketahui Daru sudah meninggal dunia di kamar kosnya.

“Semoga misteri ini segera terungkap, dan daru dan keluarga mendapatkan kehadiran (kebenaran) apa yang terjadi yang sampai saat ini masih menjadi misteri,” kata Subaryono, ayah Arya Daru.

Pihak kuasa hukum mengatakan akan berkoordinasi dengan kepolisian atas temuan baru ini.

“Kami meminta kepada Mabes Polri untuk mengambil alih kasus ini, supaya Mabes Polri bisa komprehensif mengungkap misteri dari meinggalnya almarhum ini, sehingga ada kepastian hukum dari keluarga, ada pemenuhan HAM bagi keluarga.

Dan ada pemenuhan kemanusiaan bagi almarhum dan keluarga almarhum,” kata Nicholay.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya, Selasa (29/7/2025), menyimpulkan bahwa kematian Arya alias ADP tidak melibatkan pihak lain.

Namun kesimpulan ini menyisakan sejumlah pertanyaan publik.

Polisi menyebut kasus itu hanya bisa dilanjutkan jika terdapat temuan baru yang mengarah pada peristiwa pidana.

Kriminolog menilai temuan baru “mungkin bisa menjadi petunjuk” tapi “belum tentu merujuk pada dugaan tindakan pidana”.

Lantas apa saja pertanyaan yang muncul setelah pengumuman Polri soal kesimpulan kematian Arya?

Di mana ponsel ADP?

Ponsel ADP disebut polisi bertipe Samsung S22 Ultra. Polisi bilang ADP menggunakan ponsel pintar itu sehari-hari, atau setidaknya pada 2025.

Namun polisi membuat klaim bahwa mereka belum mengetahui keberadaan ponsel itu.

Menurut polisi, ponsel itu terakhir kali terlacak aktif di Mal Grand Indonesia, Jakarta Pusat.

“Ya kalau namanya handphone off, kami juga susah untuk melacaknya,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya Triputra.

Menurut kriminolog Haniva Hasna, jika suatu saat ponsel milik ADP ditemukan, polisi sebenarnya juga belum tentu dapat menjawab apakah terjadi tindak pidana dalam kematian diplomat Kemlu itu.

“Ponsel bisa penting, tapi itu bukan satu-satunya jawaban. Yang krusial adalah konteks penggunaanya dan kemampuan penyelidik membaca pola digital di dalam ponsel,” kata Haniva.

Ponsel pribadi, menurut Haniva, berpotensi menjadi petunjuk penting sebuah kasus.

Pasalnya, di ponsel terekam pola komunikasi, tekanan, rahasia hingga konflik personal seseorang.

Haniva bilang, informasi dalam ponsel itu dapat berisi riwayat percakapan terakhir melalui pesan WhatApp, SMS, surat elektronik, aplikasi pesan terenkripsi, juga panggilan masuk dan keluar.

“Semua itu dapat membantu memetakan kondisi psikologis dan sosial korban menjelang kejadian,” ucap Haniva kepada BBC News Indonesia.

Namun, Haniva berkata, ponsel juga bukan jaminan utama menjadi temuan baru yang mengarah pada dugaan tindak pidana.

Alasannya, data dalam ponsel itu bisa saja terbatas, terutama jika ADP berhati-hati dan tidak merekam tekanan yang dialaminya.

Faktor lainnya, kata Haniva, data dalam ponsel bisa dimanipulasi atau dihapus jika ada keterlibatan pihak lain.

Meski sebagian besar barang bukti telah diperlihatkan polisi kepada publik, kriminolog berkata, kepolisian bisa saja menyimpan elemen penting dalam kasus itu.

Alasan lainnya, polisi bisa jadi masih menguji temuan tertentu dalam kematian ADP.

“Mungkin saja beberapa barang non-fisik atau tidak kasat mata, kadang justru paling penting,” kata Haniva.

Haniva berkata, riwayat aktivitas digital yang belum diungkap, catatan pribadi (tertulis atau suara), termasuk histori CCTV di luar jam kejadian utama, bisa menunjukkan siapa saja yang ada di sekitar lokasi pada hari-hari sebelum kejadian.

Sebelumnya, polisi menyusun kronologi aktivitas ADP berdasarkan rekaman CCTV di 20 titik dalam runut kejadian pada pukul 07.03, 7 Juli hingga 8 Juli pukul 07.39 WIB.

Dalam keterangan kepada pers, kepolisian tidak menjelaskan kejadian-kejadian lain di luar runutan waktu itu.

Sumber artikel: BBC Indonesia

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses