banner 728x90
Bangka  

Kuliah Kelas Internasional UBB: Orang Mapor Bangka Berasal dari Imigrasi Sri Lanka 40.000 Tahun Lalu

International Class bertema Tracing the Historical Identity of Bangka and Belitung in Global Relationship, digelar jurusan Ilmu Politik UBB, di Ruang Seminar Gedung Babel 1, Kamis (21/8/2025).
banner 120x600
banner 468x60

JURNALINDONESIA.CO – Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik UBB antusias mengikuti kelas internasional di Ruang Seminar Gedung Babel 1, Kamis (21/8/2025).

Temanya adalah Tracing the Historical Identity of Bangka and Belitung in Global Relationship.

banner 325x300

Kegiatan itu adalah International Class Ilmu Politik UBB,

Dosen Ilmu Politik UBB Robing mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian perkuliahan internasional hasil kerja sama Eurasia Foundation dengan Jurusan Ilmu Politik UBB.

“Puluhan peserta yang merupakan mahasiswa prodi Ilmu Politik dari semester 3 ini tampak antusias dan serius mengikuti International Class di pertemuan yang perdana pada perkuliahan Semester Gasal tahun ajaran 2025-2026,” ujar Robing dalam rilis kepada media.

Dr Iskandar Zulkarnain sebagai pemateri membagikan ilmu konsep Bangka: From Story to History, yang menyoroti perjalanan genealogis orang Mapor dalam pusaran politik dan identitas global.

Ia membagi pemaparannya ke dalam tiga pokok bahasan yakni Asal-usul Identitas Mapor, Subordinasi dalam Politik Global dan Kebangkitan di Era Modern.

Menurutnya, orang Mapor diyakini memiliki jejak migrasi sejak 60.000–40.000 tahun lalu dari Sri Lanka ke Nusantara.

Ciri fisik, bahasa, dan tradisi mereka berbeda dari etnis Melayu maupun Tionghoa, dengan bahasa khas seperti Itiek, Nen, Map, dan Nidi. Beberapa catatan sejarah juga mengaitkan mereka dengan migrasi Austronesia-Mongol pada abad ke-12.

“Masyarakat Mapor terbagi ke dalam tiga kelompok: laut, bukit, dan daratan.

Pada masa kolonial Belanda dan Jepang, mereka mengalami eksploitasi sumber daya alam, terutama timah dan sawit. Ketergantungan ini berlanjut hingga era Orde Baru (1967–1998), menempatkan mereka dalam posisi terpinggirkan secara politik dan ekonomi,” terangnya.

Iskandar menjelaskan, kebangkitan orang Mapor ditandai dengan pengakuan politik, seperti adanya Hari Masyarakat Adat Sedunia di tanggal 9 Agustus.

Kemudian terbitnya SK Bupati tentang perlindungan masyarakat adat, hingga rencana Raperda 2024.

“Upaya ini memperkuat identitas Mapor sebagai bagian penting dari kearifan lokal Bangka Belitung sekaligus simbol perjuangan masyarakat adat menjaga tanah dan budaya leluhur,” kata Iskandar.

Dia menegaskan jika seminar ini menunjukkan Bangka Belitung tidak hanya sekadar memiliki warisan budaya, melainkan bagian dari arus politik global.

“Orang Mapor adalah saksi perjalanan panjang interaksi global yang membentuk identitas Bangka Belitung hingga hari ini,” tutup Iskandar. (*)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses