JURNALINDONESIA.CO – Inilah 10 negara yang paling sedikit memiliki toilet.
Apakah ada negara Indonesia di dalamnya?
Biasanya, negara ini dengan kondisi masyarakat yang hidup miskin.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggap standar minimum sanitasi dasar adalah toilet untuk satu rumah tangga yang terhubung ke tangki septik atau pengomposan, lubang pembuangan, atau pipa pembuangan limbah.
Negara-negara tanpa toilet, atau negara-negara tanpa akses ke sanitasi dasar untuk menampung atau membuang kotoran, memang ada di seluruh dunia.
WHO mencatat bahwa lebih dari 1,5 miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki sanitasi dasar di rumah mereka (jamban atau toilet pribadi).
Banyak dari mereka berada di Afrika, India, Karibia, dan kepulauan Pasifik.
Menurut World Population Review, berikut 10 negara dengan persentase penduduk tertinggi yang tidak memiliki layanan toilet:
1. Kirgistan, Asia Tengah: 69 persen
2. Pantai Gading, Afrika Barat: 50 persen
3. DR Kongo, Afrika Tengah: 36 persen
4. Nigeria, Afrika Barat: 32 persen
5. Uganda, Afrika Bagian Timur: 32 persen
6. Papua Nugini, Negara di Oseania: 32 persen
7. Togo, Afrika Barat: 32 persen
8. Guinea, Afrika Barat: 27 persen
9. Niger, Afrika Barat: 26 persen
10. Vanuatu, Negara di Oseania: 24 persen
Tanpa sanitasi dasar dan pembuangan serta pengolahan tinja yang tepat, berbahaya bagi manusia.
Penyakit, malnutrisi, pembangunan sosial-ekonomi, dan kesejahteraan secara keseluruhan merupakan masalah di negara-negara tanpa toilet.
Diare, disentri, kolera, tifus, polio, cacingan, dan resistensi antimikroba adalah beberapa masalah umum yang terkait dengan kurangnya toilet di negara-negara yang tidak memiliki langkah-langkah sanitasi dasar.
Tanpa toilet di banyak rumah tangga, banyak orang terpaksa buang air besar sembarangan di selokan, di tanah, atau di perairan setempat.
WHO menemukan bahwa sekitar 419 juta orang melakukan praktik ini di negara-negara tanpa toilet.
Kini jumlah negara tanpa toilet terus menurun seiring kontribusi organisasi lokal, nasional, dan internasional terhadap peningkatan sanitasi dasar di kota-kota kecil, besar, dan rumah tangga.
Layanan toilet keliling beroperasi di tempat-tempat seperti Etiopia, yang dulunya merupakan negara tanpa toilet nomor 1 di dunia, dan telah membantu mengurangi jumlah orang yang tidak memiliki toilet yang aman dan higienis.
Seiring dengan meningkatnya akses terhadap air bersih, sabun, dan edukasi kesehatan serta penyakit, langkah-langkah sanitasi di berbagai negara di dunia harus terus ditingkatkan.
Namun, penting untuk dipahami bahwa masih banyak tempat di dunia di mana lebih dari 50 persen penduduknya tidak memiliki toilet atau jamban di rumah, atau kesulitan menemukan toilet umum saat bepergian.
Dilansir laman resmi WHO, setiap orang hendaknya peduli terhadap toilet karena akses terhadap sanitasi diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai hak asasi manusia yang memberikan hak kepada setiap orang untuk memiliki akses fisik dan terjangkau terhadap sanitasi, di semua bidang kehidupan, yang aman, higienis, terjamin, dan dapat diterima secara sosial dan budaya, serta yang memberikan privasi dan menjamin martabat.
Semua orang harus peduli terhadap toilet karena kesehatan masyarakat bergantung pada toilet.
Hidup tanpa toilet yang layak itu kotor, berbahaya, dan tidak bermartabat.
Jika setiap orang di suatu komunitas tidak memiliki toilet yang aman, kesehatan semua orang akan terancam.
Toilet yang memadai dan dikelola dengan aman mendorong peningkatan kesetaraan gender, pendidikan, ekonomi, dan lingkungan.
Toilet melindungi martabat, keselamatan, dan kesehatan perempuan dan anak perempuan, di rumah, sekolah, atau tempat kerja, terutama selama menstruasi dan kehamilan.
Sumber artikel: tribunnews.com