banner 728x90

Inilah Arti ACAB dan 1312 Warnai Aksi Demo dan Viral di Media Sosial

Arti tulisan ACAB dan 1312 yang kerap muncul di tengah aksi demo.
banner 120x600
banner 468x60

JURNALINDONESIA.CO – Apa arti ACAB dan 1312 yang mewarnai demo di sejumlah wilayah Indonesia.

Tulisan tersebut sengaja ditorehkan di dinding, poster, dan tempat-tempat lain yang mudah dilihat publik.

banner 325x300

Ternyata ACAB dan 1312 memiliki arti secara global.

Di X (Twitter), misalnya, banyak pengguna yang memakai tagar #ACAB yang disertai dengan angka #1312 atau #ACAB1312 atau sejenisnya dalam unggahan mereka.

Sederhananya, ACAB adalah singkatan dari “All Cops Are B*stards” atau “Semua Polisi Adalah B*jingan” jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Sementara itu, angka 1312 adalah “kode” yang mewakili urutan dari masing-masing abjad ACAB tadi, yaitu 1 untuk A, 3 untuk C, 1 untuk A, dan 2 untuk B.

ACAB telah menjadi salah satu slogan protes yang populer di berbagai belahan dunia.

Menurut GQ.com, singkatan ini biasa dipakai sebagai perlawanan masyarakat terhadap aparat yang tidak mengayomi dan melindungi masyarakat.

Berakhirnya Tren Lagu Pendek di Era Tiktok Artikel Kompas.id Istilah ACAB sendiri konon berasal dari Inggris dan sudah dipakai sejak puluhan tahun lalu.

Awal Mula di Inggris Jejak awal penggunaan istilah ini dapat ditelusuri ke Inggris pada era 1920-an.

Di era ini, ahli tata bahasa dan penyusun kamis (leksikografer) asal inggris, Eric Partridge sempat mencatat keberadaan sebuah syair singkat yang berbunyi: “I’ll sing you a song, it’s not very long: All coppers are b*stards!” (Saya akan nyanyikan sebuah lagu, singkat saja: Semua polisi bajingan).

Konon, pada saat itu ACAB belum menjadi singkatan. Slogan populer empat huruf ini kabarnya baru disulap jadi singkatan pada tahun 1940-an, pada saat banyak demo mogok buruh di Inggris.

Istilah ACAB kemudian dipakai di publik pertama kali oleh koran asal Inggris, Daily Mirror.

Mereka menjadikan slogan tersebut salah satu judul dalam sebuah berita di halaman depan koran.

Berita tersebut berkaitan dengan pihak kepolisian yang menangkap seorang remaja yang memakai slogan ACAB di jaketnya.

Cerita ini menjadi populer dan di kalangan remaja dan kabarnya telah menumbuhkan kebencian terhadap polisi di sana.

Dari Skinhead hingga Musik Punk Memasuki tahun 1970-an dan 1980-an, slogan ini perlahan melekat pada subkultur skinhead (komunitas kepala botak) dan musik punk di Inggris.

Band dengan subgenre Oi! (punk skinhead) asal London, The 4-Skins, menjadi sangat berpengaruh dalam menyebarkan slogan ACAB.

Sekitar tahun 1980-an, mereka merilis lagu berjudul “A.C.A.B.”.

Dalam lagu ini, slogan tersebut dijadikan sebagai simbol perlawanan kelas pekerja terhadap otoritas negara.

Popularitas ACAB kemudian menular ke berbagai negara melalui musik, grafiti, dan gerakan perlawanan sipil.

Beberapa band musik punk lainnya di era 1980-an dan 1990-an yang ramai pakai ACAB adalah The Last Resort, The Business, Sham 69, Cockney Rejects, The Explited, hingga The Casualties.

Di era ini juga, slogan ACAB mulai “ditutupi” dengan kode nomor 1312 supaya tak begitu eksplisit.

Menjadi Slogan Global

Dalam beberapa dekade terakhir, ACAB muncul di berbagai demonstrasi besar: mulai dari Arab Spring di Kairo, protes pro-demokrasi di Hong Kong, beberapa momen kerusuhan di New York, hingga kerusuhan dan demonstrasi politik di Indonesia.

Slogan ini juga muncul di banyak stadion sepak bola Eropa, dinding-dinding kota Prancis, stasiun kereta bawah tanah New York, hingga menjadi bagian dari perlawanan kelompok anarkis di berbagai belahan dunia.

Di Amerika Serikat (AS), istilah ACAB kembali mengemuka pada 2020 bersamaan dengan gelombang protes Black Lives Matter setelah kasus kematian pria kulit hitam bernama George Floyd.

Floyd tewas karena kekerasan polisi bernama Derek Chauvin yang mencekik lehernya dengan lutut selama beberapa menit dalam proses penangkapan.

Slogan ini tidak hanya muncul di jalanan dan ajang demonstrasi, tapi juga di ruang digital, termasuk meme TikTok, gambar sindiran di Instagram, hingga dunia virtual di game Animal Crossing.

Kontroversi dan Perdebatan

Meski populer, ACAB tetap menimbulkan perdebatan.

Sebagian orang mengartikannya secara harfiah, bahwa semua polisi bersalah karena menjadi bagian dari sistem yang dianggap korup.

Sementara itu, sebagian lain memaknainya sebagai metafora untuk mengkritik institusi, bukan individu.

Bagi gerakan penghapusan polisi (abolitionist movement), ACAB dianggap sebagai alat komunikasi yang sederhana, mudah diingat, sekaligus provokatif.

Sebaliknya, bagi serikat polisi, slogan ini dianggap merusak citra dan memicu kebencian terhadap aparat penegak hukum.

Terlepas dari kontroversi yang ada, slogan ACAB atau 1312 kini sangat kental menempel pada masyarakat dan instan dipakai sebagai perlawanan jika ada sesuatu yang tak beres dari aparat.

Seperti halnya lagu Fuck tha Police dari N.W.A pada 1988, ACAB menunjukkan bagaimana bahasa protes bisa melekat dalam budaya populer lintas generasi.

Kesederhanaan akronimnya membuat ACAB tetap digunakan, baik dalam bentuk grafiti, teriakan protes, maupun simbol solidaritas di media sosial.

Lebih dari sekadar kata-kata kasar, ACAB mencerminkan ketegangan abadi antara masyarakat dengan otoritas.

Sejarah panjangnya menjadi bukti bahwa perlawanan terhadap penyalahgunaan kekuasaan selalu menemukan bahasa baru, namun semangatnya tetap sama, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari GQ.com, Sabtu (30/8/2025).

Sumber artikel: Kompas.com

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses