BELITUNG TIMUR, JURNALINDONESIA.CO — Menambang timah bukan sekadar mata pencaharian bagi Khairul Anam (38), warga Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur.
Sejak 2019, ketukan cangkul dan putaran mesin tambang rakyat menjadi satu-satunya tumpuan dapur keluarganya tetap mengepul.
Namun, mengais rezeki dari perut bumi Belitung Timur kini makin menjauh dari kata mudah.
Lapangan tambang yang kian tergerus membuat hasil tangkapan tak lagi menentu.
Untuk mengantongi tiga hingga empat kilogram timah sehari saja, Khairul harus memeras keringat ekstra.
“Penghasilan tidak tentu. Lokasi sekarang sudah amburadul. Cari tiga atau empat kilo sehari saja sudah susah,” ujar Khairul.
Jika beruntung, penghasilan bersihnya berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per hari setelah dipotong biaya operasional bahan bakar.
Angka yang terbilang pas-pasan, namun sangat berarti untuk menyambung hidup.
Sayangnya, perjuangan penambang kecil tak berhenti di lapak tambang.
Saat harga timah membaik, masalah baru muncul, rantai penjualan yang tersendat.
Penambang kerap terjebak antrean panjang karena hasil tambang yang menumpuk tak segera terserap.











