banner 728x90

SLB Negeri Pangkalpinang Bawa Gurita Raksasa, Sindir Kerusakan Alam Akibat Tambang Timah Ilegal

SLB Pangkalpinang ikut karnaval dengan membawa hiasan gurita. Foto: JI/Mita
banner 468x60

PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO — Seekor gurita raksasa berwarna ungu dengan tentakel merah muda tampak mencuri perhatian di tengah kemeriahan Pawai dan Karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Pangkalpinang, Kamis (27/8/2026).

Bukan sekadar hiasan, gurita dengan tentakel besar yang mengelilingi sebuah perahu tersebut membawa pesan tentang pentingnya menjaga kekayaan laut Bangka Belitung dari kerusakan lingkungan.

Karya itu ditampilkan peserta dari SLB Negeri Pangkalpinang dalam pawai yang mengangkat tema besar “Nusantara Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Konsep gurita dipilih karena ingin menggambarkan identitas Bangka Belitung sebagai wilayah kepulauan yang memiliki kekayaan alam laut dan masyarakat yang banyak menggantungkan kehidupan dari hasil laut.

Di bagian perahu, peserta juga menyematkan sejumlah pesan terkait perlindungan laut dan penolakan terhadap aktivitas tambang ilegal.

Tulisan “TI-TOWER ILEGAL” turut menjadi bagian dari karya tersebut, memperkuat pesan lingkungan yang ingin disampaikan para peserta.

Ketua pelaksana peserta SLB Negeri Pangkalpinang, Syukur, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat untuk menyampaikan keresahan terhadap kondisi lingkungan Bangka Belitung, khususnya kerusakan alam akibat aktivitas tambang ilegal.

“Jadi sesuai dengan tema kita, Nusantara Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur. Dari situ kita mengambil konsep ini karena Bangka Belitung itu terdiri dari kepulauan, lebih banyak nelayan, dan Bangka Belitung juga terkenal dengan timah,” kata Syukur kepada jurnalindonesia.co.

Menurutnya, isu kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan menjadi perhatian yang kemudian dituangkan dalam karya karnaval tersebut.

“Dan akhir-akhir ini kita lihat gejolak timah dan kerusakan alam semakin parah. Kita ingin menyampaikan pesan bahwa kita sama-sama melindungi alam kita, terutama di habitat bawah laut kita, terumbu karang dan lain sebagainya,” ujarnya.

Gurita dalam karya tersebut kemudian menjadi simbol ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga laut Bangka Belitung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses