PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Sebanyak 35 anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Pangkalpinang mengikuti Bengkel Sastra Penulisan Puisi, Rabu (12/8/2026).
Kegiatan yang digelar bekerja sama dengan Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung itu menjadi kesempatan bagi anak binaan untuk menuangkan pikiran, perasaan, hingga cerita tentang keluarga dan masa lalu melalui tulisan.
Kepala LPKA Pangkalpinang, Mustafa Kamaluddin Simamora mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mengembangkan potensi anak binaan melalui kegiatan positif.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya atas kesempatan berharga yang diberikan kepada anak-anak kami untuk belajar membuat puisi. Semoga seluruh anak binaan dapat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan memanfaatkan momen ini untuk mengasah potensi diri,” ujar Mustafa saat membuka kegiatan di Aula LPKA Pangkalpinang.
Menurut Mustafa, pembinaan terhadap anak binaan tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak.
Karena itu, keterlibatan berbagai pihak dinilai penting untuk mendukung proses pembinaan.
“Semakin banyak pihak yang terlibat dalam rangkaian kegiatan pembinaan, maka peluang keberhasilannya juga akan semakin besar,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan minat anak binaan untuk menulis dan menjadikan tulisan sebagai cara untuk menuangkan perasaan maupun pikiran mereka.
“Semoga suatu saat muncul sosok-sosok yang suka menulis dan selalu menuangkan perasaan dan pikiran mereka ke dalam bentuk tulisan,” ujarnya.
Mustafa juga berharap karya yang lahir dari kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai tugas selama bengkel sastra, tetapi bisa dikembangkan menjadi sebuah buku.
“Semoga puisi karya anak-anak kita bisa menjadi sebuah karya yang dibukukan dan dijadikan salah satu materi dalam pembelajaran di dunia pendidikan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Afriyendy Gusti mengatakan, para peserta akan diperkenalkan dengan proses menulis puisi mulai dari menemukan ide hingga menuangkannya menjadi sebuah karya.
“Kami hadir untuk mengedukasi anak-anak binaan tentang bagaimana menulis puisi, mulai dari mencari ide hingga mengeksekusinya menjadi karya utuh,” ujar Afriyendy.













