PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Ada yang rela datang pagi-pagi hanya untuk membeli martabak.
Bukan karena tempatnya kekinian atau tampilannya mewah, tetapi karena Martabak Hosana punya satu hal yang sulit ditemukan di banyak kuliner lain, rasa yang bertahan selama puluhan tahun.
Di Pangkalpinang, martabak yang satu ini sudah menjadi bagian dari cerita kuliner masyarakat.
Dibuka sejak pukul 07.00 WIB, Martabak Hosana bahkan kerap ludes sebelum sore.
Tak jarang, sekitar pukul 14.00 hingga 15.00 WIB, pelanggan yang datang sudah harus pulang dengan tangan kosong.
Menariknya, harga yang ditawarkan juga masih tergolong ramah di kantong, yakni mulai dari Rp22 ribu hingga Rp37 ribu.
Berada di Jl. Permata No.14, Pasar Padi, Kecamatan Girimaya, Kota Pangkalpinang, sederetan dengan Warkop Tiam Aliung dan tepat di depan toko bangunan, Martabak Hosana telah bertahan selama 52 tahun.
“Ya, ini dari bapak saya. Sudah lama, kalau ditotal kurang lebih 52 tahun,” ujar Alay, generasi kedua yang kini meneruskan usaha tersebut.
Martabak Hosana memang bukan kuliner baru.
Usaha ini telah diwariskan dari sang ayah kepada Alay, dengan cita rasa dan konsep yang tetap dipertahankan.
Kesederhanaan justru menjadi kekuatan Martabak Hosana.
Di tengah maraknya kuliner kekinian, martabak ini tetap hadir dengan cara lama dan harga yang masih terjangkau.













