PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Kota Pangkalpinang mengalami inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,67 persen pada Juli 2026.
Secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi tercatat sebesar 0,85 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,59 persen.
Data tersebut disampaikan Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Savitri, saat merilis Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Juli 2026 di Kantor BPS Kota Pangkalpinang, Senin (3/8/2026).
Dalam pemaparannya, Dewi menjelaskan inflasi bulanan terutama dipengaruhi kenaikan harga ikan tenggiri, nasi dengan lauk, dan cumi-cumi.
Sementara secara tahunan, komoditas yang paling besar mendorong inflasi adalah angkutan udara, bensin, dan cumi-cumi.
“Terkait rilis Berita Resmi Statistik untuk inflasi bulan Juli 2026, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,85 persen. Sementara untuk inflasi tahunannya sebesar 2,67 persen. Untuk bulanan komoditasnya ikan tenggiri, kemudian nasi dan lauk, juga cumi-cumi. Nah, sementara yang tahunan tadi angkutan udara, kemudian bensin, sama cumi-cumi,” ujar Dewi.
Dewi menjelaskan, tingginya inflasi pada kelompok bahan pangan, khususnya ikan, dipengaruhi kondisi cuaca buruk yang berdampak pada pasokan hasil tangkapan nelayan.
Menurutnya, bukan hanya ikan tenggiri dan cumi-cumi yang mengalami kenaikan harga, tetapi hampir seluruh jenis ikan yang dipantau BPS sepanjang Juli.
“Kalau inflasi ini disebabkan komoditas ikan, itu karena cuaca buruk. Bahkan ada sekitar 22 jenis ikan yang diamati pada bulan Juli ini. Walaupun yang muncul tadi hanya ikan tenggiri dan cumi-cumi, jenis ikan lainnya juga mengalami kenaikan harga. Kalau ditotal, itu yang membuat inflasinya menjadi tinggi,” jelasnya.
Berdasarkan data BPS, kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi tahunan terbesar dengan tingkat inflasi mencapai 6,25 persen dan memberikan andil sebesar 0,85 persen terhadap inflasi Kota Pangkalpinang.













