banner 728x90

Mengetuk Pintu di Kala Malam, Kisah Pejuang Sensus Ekonomi Pangkalpinang Mengumpul Data Negara

Kisah petugas Sensus Ekonomi 2026 mengumpulkan data saat malam. Foto: JI/Mita
banner 468x60

PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Jam dinding telah melewati angka delapan malam, namun langkah kaki Lisya belum juga melambat.

Di bawah temaram lampu jalanan kawasan Selindung Baru, perempuan muda ini merapatkan jaketnya, menggenggam erat berkas di tangan, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk sebuah pintu rumah warga, Sabtu (18/7/2026).

Bagi Lisya dan 191 Petugas Sensus Ekonomi lainnya yang tersebar di pelosok Kota Pangkalpinang, malam bukan lagi waktu untuk beristirahat.

Malam adalah waktu luang berharga, satu-satunya celah untuk menemui warga kota yang sepanjang siang sibuk beraktivitas di luar rumah.

​Sejak Juni lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang tengah berkejaran dengan waktu.

Targetnya tidak main-main, 112 ribu data ekonomi warga harus rampung dihimpun sebelum Agustus 2026 berakhir.

Di pundak Lisya sendiri, ada beban target 500 data penduduk di wilayah Selindung Baru dan Gabek yang harus diselesaikan.

​”Hampir dua bulan berjalan, baru sekitar 200 data yang berhasil terkumpul,” ujar Lisya saat berbincang di sela-sela tugasnya.

Nadanya terdengar lelah, namun matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa.

Menembus Dinding Penolakan 

Bergerak dari rumah ke rumah nyatanya bukan sekadar perkara fisik.

Tantangan terberat yang dihadapi Lisya justru datang dari balik pintu-pintu yang tertutup rapat, atau dari kepalan tangan warga yang curiga.

Tak jarang, senyum ramah yang ia suguhkan dibalas dengan ketakutan atau sentimen negatif yang telanjur menyebar di dunia maya.

Lisya mengingat betul salah satu pengalaman paling membekas dalam benaknya, saat ia mendatangi rumah seorang pensiunan BUMN.

Bukannya disambut baik, ia justru dihardik dengan nada tinggi.

“Bapak itu marah-marah ke saya. Dia bilang, ‘Sudah nonton YouTube belum? Di Jakarta itu sensus ditolak warga!’ Ternyata beliau terpengaruh isu-isu di media sosial,” kenang Lisya dengan senyum getir.

Diperlakukan seperti itu di depan halaman rumah orang asing tentu menggores hati.

Namun, alih-alih berbalik arah dan menyerah, Lisya memilih bertahan.

Ia mafhum, ketakutan warga sering kali lahir dari ketidaktahuan.

Dengan sabar, ia menjelaskan bahwa data yang diminta hanyalah potret umum kondisi ekonomi makro, seperti pengeluaran biaya makan dan garis besar penghasilan, bukan untuk mengintip isi dompet demi urusan pajak atau kriminal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses