PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Upaya meningkatkan deteksi dini HIV di Kota Pangkalpinang masih menghadapi berbagai tantangan.
Selain masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara sukarela, petugas dan relawan di lapangan juga dihadapkan pada stigma yang membuat sebagian kelompok berisiko enggan memeriksakan diri.
Hal itu disampaikan seorang relawan HIV yang aktif mendampingi komunitas berisiko di Pangkalpinang.
Demi menjaga privasi, identitas relawan disamarkan dengan nama Jeje (35).
Menurut Jeje, pemeriksaan Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan layanan yang bersifat sukarela dan menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui status HIV seseorang sejak dini, khususnya bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
“VCT itu pemeriksaan yang dilakukan secara sukarela. Tujuannya untuk mengetahui status HIV sedini mungkin bagi teman-teman yang merasa memiliki faktor risiko, sehingga mereka bisa menjaga kesehatannya,” ujarnya kepada jurnalindonesia.co, Kamis (16/7/2026).
Ia menjelaskan, layanan VCT umumnya dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan window period atau masa jendela, yakni rentang waktu tertentu setelah seseorang berisiko terpapar HIV sebelum hasil pemeriksaan dapat menggambarkan kondisi secara akurat.
Meski demikian, mengajak masyarakat untuk mengikuti pemeriksaan bukan perkara mudah.
Menurutnya, banyak orang masih memilih menyembunyikan perilaku berisiko yang dimiliki karena khawatir terhadap stigma maupun penilaian dari lingkungan sekitar.
“Kesulitannya bukan pada layanan, tetapi bagaimana membangun kesadaran mereka. Banyak yang masih menutup diri, ada rasa malu atau takut untuk memeriksakan diri karena menganggap ini isu yang sensitif,” katanya.
Berdasarkan pendampingan yang dilakukannya di lapangan, Jeje mengatakan temuan kasus baru pada tahun 2026 masih banyak ditemukan pada populasi kunci, termasuk laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).
Namun, ia menegaskan kondisi tersebut perlu dipahami sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat, bukan untuk memberi cap atau stigma terhadap kelompok tertentu.













