KARIMUN, JURNALINDONESIA.CO — Amir sempat berdiri termangu di depan pintu rumahnya di Kelurahan Sawang, Kundur Barat, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Di satu sisi, hatinya diliputi rasa bangga, Mohd. Aditya Kurniawan, putra keduanya, baru saja lulus dari SMP Negeri 1 Kundur Barat dengan predikat juara pertama.
Namun di sisi lain, kepalanya pening.
Sebagai pekerja serabutan yang penghasilannya tidak menentu, kadang melaut, kadang mengais rezeki di darat, biaya perlengkapan masuk SMA terasa seperti gunung yang sulit didaki.
Meski biaya sekolah gratis, urusan seragam, buku, dan alat tulis baru tetap saja membutuhkan uang yang tidak sedikit.
Beruntung, kecemasan Amir tak sempat berlarut-larut.













