PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Kala itu pada suatu sore di sebuah hotel di Kota Pangkalpinang, pertengahan Maret 2026.
Suasana di dalam hotel terasa begitu hangat meski suhu ruangan disetel 20 derajat celcius.
Di tengah riuh rendah tawa anak-anak yatim yang menanti azan Magrib, seorang pria berkemeja santai tampak duduk dengan tangan bersila.
Tidak ada jarak, tidak ada sekat formalitas yang kaku.
Pria itu adalah Harwendro Adityo Dewanto, atau yang akrab disapa Mas Didit.
Bagi seorang Komisaris PT Mitra Stania Prima (MSP) sekaligus kader papan atas Partai Gerindra, ia lebih senang berbaur.
Saat itu, Mas Didit larut dalam kebahagiaan sederhana bersama anak-anak yang sore itu menjadi “keluarganya”.
“Hadir di tengah-tengah anak yatim seperti ini memberikan energi yang luar biasa bagi saya,” ujarnya dengan senyum tulus yang mengembang kala itu.
Bagi pria kelahiran Jakarta, 10 Desember 1983 ini, momen-momen informal yang menyentuh hati jauh lebih bermakna daripada seremoni protokoler yang monoton.
Itulah potret ringkas sosok Harwendro yang kini semakin dikenal masyarakat di Negeri Serumpun Sebalai.
Tak Berteduh di Pohon Besar
Jika melihat silsilah keluarganya, Mas Didit punya segala alasan untuk tampil eksklusif.
Istrinya, Rahayu Saraswati, adalah keponakan dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Sebuah nama besar yang mampu membuka banyak pintu kemudahan.













