PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Depati Amir Pangkalpinang mengingatkan masyarakat di wilayah pesisir Kepulauan Bangka Belitung agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir pesisir (rob) pada 12-17 Juli 2026.
Kondisi tersebut dipicu fenomena Super New Moon yang mencapai puncaknya pada 14 Juli.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang, Bimo Satria Nugroho, menjelaskan Super New Moon merupakan fenomena bulan baru yang terjadi bersamaan dengan posisi bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi atau perigee.
“Super New Moon itu bulan baru yang bertepatan saat posisi bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi atau perigee. Karena gaya tarik gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi menjadi lebih kuat, kondisi ini memicu peningkatan ketinggian pasang maksimum air laut,” jelas Bimo kepada jurnalindonesia.co, dilansir pada Sabtu (11/7/2026).
Ia menegaskan, fenomena tersebut berbeda dengan Supermoon yang terjadi saat fase bulan purnama.
“Perlu dibedakan antara Supermoon dan Super New Moon. Kalau Supermoon terjadi pada fase bulan purnama sehingga bulan tampak lebih besar dan terang. Sedangkan Super New Moon terjadi saat fase bulan baru, sehingga langit justru berada pada kondisi paling gelap karena bulan tidak memantulkan cahaya. Jika cuaca cerah, bintang akan terlihat lebih banyak,” ujarnya.
Bimo menjelaskan, meski memiliki tampilan yang berbeda, kedua fenomena astronomi tersebut sama-sama dapat meningkatkan tinggi pasang air laut akibat pengaruh gravitasi.
“Baik Supermoon maupun Super New Moon sama-sama dapat memicu peningkatan pasang maksimum. Jika kondisi ini disertai cuaca buruk atau angin kencang, maka berpotensi menyebabkan banjir pesisir atau rob,” katanya.
Ia menambahkan, fenomena gerhana hanya dapat terjadi apabila posisi matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus.













