banner 728x90

15 Penyandang Disabilitas Pangkalpinang Dilatih Jadi Barista, Figoyan Senang Ikut Program Disnaker

Avatar
Penyandang disabilitas ikut pelatihan barista di Om Brew Coffee, Kelurahan Selindung Baru, Jumat (26/6/2026). Foto: JI/Mita
banner 468x60

PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pangkalpinang menggelar pelatihan Training Mobile Team (TMT) Peracikan Minuman Kopi bagi penyandang disabilitas sebagai upaya meningkatkan keterampilan dan kemandirian peserta.

Pelatihan dilakukan di Om Brew Coffee, Kelurahan Selindung Baru, Kecamatan Gabek ini, diikuti 15 peserta penyandang disabilitas dari Kota Pangkalpinang.

Peserta terdiri dari sembilan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri dan enam siswa dari SLB YPAC Pangkalpinang.

Dari total peserta tersebut, sebanyak empat orang merupakan penyandang tuna rungu dan 11 lainnya keterbatasan intelektual atau tuna grahita.

Kepala Bidang Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kota Pangkalpinang, Joao Alberto mengatakan, pelatihan bertujuan membekali penyandang disabilitas dengan keterampilan meracik kopi agar nantinya dapat bekerja maupun membuka usaha secara mandiri.

“Tujuan pelatihan ini untuk memberikan keterampilan kepada anak-anak kita yang disabilitas agar mereka bisa berusaha dan mandiri,” kata Joao kepada jurnalindonesia co saat ditemui di lokasi pelatihan, Jumat (26/6/2026).

Ia menjelaskan, program tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Belitung yang turut berperan dalam penyelenggaraan kegiatan.

Menurut Joao, pelatihan yang telah berlangsung hampir satu pekan itu kini memasuki tahap praktik peracikan minuman kopi.

Para peserta tidak hanya dikenalkan dengan teknik meracik, tetapi juga diajarkan mengenal berbagai peralatan kopi, cara perhitungan dalam meracik, hingga cara memasang dan membongkar alat.

“Awalnya tentu diberikan materi terlebih dahulu. Kita juga didampingi mentor selama pelatihan berlangsung. Untuk peserta tuna rungu, ada pendamping yang membantu proses komunikasi agar materi dapat diterima dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, peserta yang mengikuti pelatihan dipilih berdasarkan potensi serta kemauan untuk belajar dan mengembangkan diri di bidang perkopian.

“Kita juga melihat potensi dan kemauan mereka. Jadi memang dipilih yang memiliki minat untuk mengikuti pelatihan ini,” jelasnya.

Joao berharap, setelah memiliki keterampilan dasar sebagai barista, para peserta dapat terserap di dunia kerja maupun membuka usaha sendiri.

“Saat ini memang belum ada tempat yang secara khusus menerima mereka. Namun ke depan kami akan berkoordinasi dengan beberapa warkop atau coffee shop yang bersedia menerima mereka untuk disalurkan bekerja,” katanya.

Salah satu peserta pelatihan dengan keterbatasan intelektual, Figoyan Pratama (22) dari SLB Negeri Pangkalpinang, mengaku pelatihan tersebut sangat bermanfaat bagi penyandang disabilitas karena dapat membuka peluang kerja di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses