“Hal ini mengindikasikan penyebab utama kerusakan, seperti penurunan tanah dasar atau kegagalan sambungan konstruksi, yang belum terselesaikan.” —Rina Tarol—
“Evaluasi dari Balai Geoteknik Terowongan dan Struktur akan mengkaji lebih mendalam terkait desain, faktor alam hingga penyebab kerusakan lainnya.” —Susan Novelia—
PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO — Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Rina Tarol, melayangkan kritik tajam terhadap kualitas perbaikan Jalan Bikang-Jeriji di Kabupaten Bangka Selatan yang dilakukan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Babel.
Berdasarkan dokumentasi dan analisis visual di lapangan, perbaikan tersebut dinilai hanya bersifat kosmetik atau tambal sulam, bukan rekonstruksi permanen.
“Masyarakat membutuhkan solusi jangka panjang, bukan sekadar penanganan sementara yang berpotensi memboroskan anggaran jika jalan tersebut kembali rusak dalam waktu singkat,” tegas Rina Tarol, Selasa (23/6/2026).
Indikasi Kerusakan Struktural
Dari hasil pemantauan visual di lokasi proyek, ditemukan empat poin krusial yang mengindikasikan bahwa perbaikan oleh BPJN Babel belum menyentuh akar masalah.
Menurut Rina Tarol, lapisan aspal baru hanya dibentangkan memanjang mengikuti garis retakan di tengah jalan dengan lebar yang relatif sempit.
Tidak terlihat adanya pembongkaran struktur perkerasan secara menyeluruh.
Selain itu, masih ada retakan dan rongga masih muncul.
Pada dokumentasi terbaru, retakan memanjang dan rongga pada bagian tengah jalan masih terlihat jelas.
“Hal ini mengindikasikan penyebab utama kerusakan, seperti penurunan tanah dasar atau kegagalan sambungan konstruksi, yang belum terselesaikan,” ujarnya.
Disebutkan, sambungan aspal tidak seragam.
Tepi lapisan aspal tambahan terlihat tidak rata dan sekadar mengekor jalur retak yang ada, bukan dipotong rapi secara teknis (terputus-putus dan tidak standar).
Pola Retak Mengarah pada Masalah Struktur
Retakan berada tepat pada garis tengah yang diduga merupakan sambungan dua tahap pekerjaan.
Kondisi ini mengarah pada potensi terjadinya differential settlement (penurunan berbeda antar sisi) atau sistem mortar foam dan cerucuk yang tidak bekerja sesuai desain.
Secara kaidah teknis, lanjut Rina Tarol, jika terjadi kerusakan struktural, BPJN Babel seharusnya melakukan pembongkaran area rusak hingga lapisan pondasi, mengevaluasi kondisi tanah serta material mortar foam, melakukan perbaikan pondasi bawah, hingga pengujian kepadatan mutu material secara bertahap.













