PANGKALPINANG, JURNALINDONESIA.CO – Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni, PT TIMAH (Persero) Tbk membuktikan bahwa industri ekstraktif mampu berjalan beriringan dengan kelestarian alam.
Melalui penerapan Good Mining Practices, perusahaan terus mempercepat transisi energi dan pemulihan ekosistem di seluruh wilayah operasionalnya.
Bukan sekadar melakukan penanaman kembali (revegetasi), emiten pertambangan ini sukses menyulap lahan pascatambang menjadi kawasan bernilai ekonomi dan edukasi.
Keberhasilan ini nyata terlihat di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang (Bangka) dan Kampong Reklamasi Selinsing (Belitung Timur) yang kini produktif sebagai pusat wisata hijau sekaligus tempat budidaya ikan air tawar masyarakat.
“Keberlanjutan bisnis harus berjalan selaras dengan kelestarian alam. Pengelolaan lingkungan bukan lagi soal meminimalkan dampak, tetapi bagaimana mengembalikan fungsi ekologis sekaligus memberi nilai tambah ekonomi bagi warga lokal,” ujar Anggi Siahaan, Department Head Corporate Communication PT TIMAH Tbk.
Di sektor keanekaragaman hayati, PT TIMAH mengukir rekam jejak impresif.
Berkolaborasi dengan PPS Alobi Foundation sejak 2018, perusahaan telah menyelamatkan, merehabilitasi, dan melepasliarkan 3.169 satwa liar—seperti mentilin, penyu lekang, hingga trenggiling—kembali ke habitatnya.
Upaya ini diperkuat dengan restorasi pesisir lewat penanaman mangrove dan pembuatan taman bawah laut (coral garden).













