JURNALINDONESIA.CO – Sinar matahari perlahan memudar, seiring cahanya yang mulai merunduk.
Di sebuah tepi Jalan Ahmad Yani Pangkalpinang, tampak warung kopi (warkop) berhadap-hadapan dengan sang surya yang berangsur tenggelam.
Suara bising knalpot memudar begitu aroma kopi yang khas menyeruak dari sebuah kedai sederhana namun memikat.
Tepat di seberang landmark bersejarah Museum Timah Indonesia, berdiri Warkop DM27, sebuah titik kumpul yang kini jadi primadona baru bagi warga Pangkalpinang.
Berbeda dengan kafe kekinian yang seringkali terasa kaku, Warkop DM27 menawarkan suasana yang lebih membumi.
Letaknya yang persis di tepi jalan utama tidak lantas membuatnya bising.
Sebaliknya, semilir angin sore dan pemandangan gedung bersejarah di depannya memberikan impresi “ruang terbuka” yang menenangkan bagi siapa saja yang singgah.
Bagi sebagian orang, warkop adalah tempat bicara politik atau sekadar berkelakar.
Namun bagi Nita (27), seorang pemilik butik di Pangkalpinang, Warkop DM27 adalah “kantor kedua”.
Dengan laptop yang terbuka dan buku catatan di samping segelas minuman dingin, Nita tampak fokus namun rileks.
“Suasananya beda saja. Di sini nyaman buat fokus ngerjain tugas, tapi kalau jenuh, tinggal lihat ke arah jalan atau museum, pikiran jadi segar lagi,” ujarnya sembari tersenyum.
Fasilitas yang memadai serta kursi-kursi yang ditata apik membuat pengunjung betah berlama-lama, baik untuk urusan serius maupun sekadar scrolling media sosial.
Daya tarik utama DM27 tentu terletak pada sajiannya.









