Oleh: Eddy Supriadi
JURNALINDONESIA.CO – Pernyataan Yudi Purnomo Harapan bahwa kepala daerah “tinggal menunggu giliran ditangkap” bukan sekadar kalimat keras yang lahir dari emosi sesaat.
Melainkan refleksi tajam dari sebuah sistem yang sejak awal sudah memproduksi risiko dan lebih dari itu, pernyataan tersebut tidak bisa dibaca hanya dengan menyorot kepala daerah semata karena dalam realitas pemerintahan daerah, kekuasaan tidak pernah bekerja sendirian ia selalu berjalan bersama DPRD sebagai mitra sekaligus pengawas.
Sehingga ketika korupsi menjadi pola yang berulang, maka yang patut dipertanyakan bukan hanya individu, tetapi keseluruhan desain relasi kekuasaan itu sendiri.
Dalam praktik politik lokal, kepala daerah lahir dari proses yang mahal biaya politik yang tinggi bukan lagi rahasia.
Melainkan fakta yang diterima secara diam-diam dan dari sanalah tekanan dimulai ketika kekuasaan dipandang sebagai instrumen untuk mengembalikan maka kebijakan publik pun perlahan bergeser menjadi alat distribusi kepentingan APBD tidak lagi sepenuhnya menjadi dokumen pembangunan.
Tetapi menjelma sebagai arena kompromi antara eksekutif dan legislatif di mana program bisa disusun, diubah, bahkan diarahkan bukan karena urgensi kebutuhan rakyat tetapi karena kepentingan politik yang saling mengunci.
Di titik ini, DPRD seharusnya hadir sebagai penyeimbang sebagai pengawas yang kritis sebagai representasi rakyat yang menjaga agar kekuasaan tidak melenceng namun dalam banyak kasus, relasi itu justru berubah menjadi hubungan transaksional fungsi anggaran menjadi ruang negosiasi fungsi pengawasan menjadi formalitas dan fungsi legislasi kehilangan daya kritisnya.
Sehingga yang terjadi bukan lagi checks and balances melainkan checks and deals sebuah praktik di mana pengawasan dipertukarkan dengan kepentingan dan kekuasaan berjalan tanpa kontrol yang berarti.
Pengadaan barang dan jasa kemudian menjadi titik temu paling konkret dari relasi tersebut di sanalah anggaran bertemu kepentingan di sanalah kebijakan diterjemahkan menjadi proyek dan di sanalah pula ruang penyimpangan terbuka lebar.













