JURNALINDONESIA.CO – Direktur Operasi PT ThorCon Power Indonesia Dhita Karunia Ashari menanggapi soal tudingan ThorCon adalah perusahaan baru yang hanya menjual ide dan gagasan, tetapi sudah tiba-tiba mau bangun PLTN.
Kekhawatiran Indonesia akan dijadikan “proyek percontohan” sering kali dimaknai secara negatif, seolah-olah menjadi objek percobaan tanpa kepastian.
Dalam praktik pembangunan teknologi, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat.
“Dalam sektor teknologi tinggi, termasuk energi nuklir, proyek percontohan (first-of-a- kindproject) merupakan mekanisme terkontrol untuk menguji dan memvalidasi desain baru secara bertahap dengan risiko yang dikelola secara sistematis,” ungkap Dhita dalam keterangan, Kamis (26/2/2026).
Untuk teknologi reaktor generasi lanjut seperti molten salt reactor (MSR), pendekatan ini justru merupakan tahapan yang lazim dalam evolusi industri.
Setiap teknologi PLTN, apapun jenis dan generasinya, harus dilisensikan untuk pertama kali melalui suatu proyek percontohan.
Dengan tata kelola yang tepat, lisensi teknologi Thorcon 500 di Indonesia akan menawarkan kesempatan bagi BAPETEN dan operator ketenaganukliran di tanah air untuk tidak hanya menggunakan, tetapi juga turut membangun dan menjadi pioner dalam pengembangan teknologi MSR, sebagai PLTN generasi maju.
Menurutnya, Thorcon menawarkan teknologi untuk dilisensikan pertama kali di Indonesia.
Dalam konsultasi dengan BAPETEN, dipahami bahwa Indonesia memiliki kerangka regulasi dan kapasitas teknis untuk melakukan penilaian desain, evaluasi keselamatan, serta proses lisensi sesuai ketentuan nasional dan praktik internasional.













