JURNALINDONESIA.CO – Umat Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci Ramadhan.
Ibarat kekasih lama tidak berjumpa, kedatangan Ramadhan membawa serta oleh-oleh berupa ampunan (Maghfirah), keberkahan (Barakah), dan pembebasan dari api neraka (Itqun minan nar).
Para ulama terdahulu (Salafus Shalih) memiliki tradisi spiritual yang luar biasa; mereka berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan.
Berdoa enam bulan setelahnya agar amal ibadah mereka diterima.
Doa Saat Melihat Hilal (Awal Ramadhan)
Secara spesifik, tidak ditemukan riwayat hadits yang mengajarkan doa “Menyambut Ramadhan” yang dibaca jauh-jauh hari sebelumnya secara khusus.
Namun, terdapat hadits yang Hasan/Shahih mengenai doa yang dibaca Rasulullah SAW ketika melihat Hilal (bulan sabit muda) penanda masuknya bulan baru, termasuk bulan Ramadhan.
Ini adalah doa yang paling Rajih (kuat) untuk diamalkan saat malam 1 Ramadhan tiba.
Hadits ari Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika melihat hilal, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmân, was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh.
Artinya: “Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan) adalah Allah.” (HR. Tirmidzi no. 3451, Ahmad, dan Ad-Darimi. Dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani).
Doa Masyhur Ulama Salaf (Yahya bin Abi Katsir)
Selain doa melihat hilal di atas, ada satu doa yang sangat populer di Indonesia dan sering dibaca di masjid-masjid menjelang Ramadhan.











