JURNALINDONESIA.CO – Sebagian kaum muslimin di Indoensia, lazim mengisi malam Nisfu Sya’ban dengan amalan shalat sunnah, membaca Al Quran, zikir, dan doa bersama.
Lalu, bagaimana hukum memperingati malam Nisfu Sya‘ban?
Salah satu ulama mazhab Hanafi, Ibnu Najim al-Hanafi, secara tegas memasukkan malam Nisfu Sya‘ban ke dalam kategori malam yang dianjurkan untuk dihidupkan.
Simak penjelasan dalam kitab Al-Bahr ar-Ra’iq Syarh Kanz ad-Daqa’iq, Jilid 2, halaman 56 yang menyatakan bahwa menghidupkan malam nisfu Sya’ban hukumnya adalah sunnah.
ومن المندوبات: إحياء ليالي العشر من رمضان، وليلتي العيدين، وليالي عشر ذي الحجة، وليلة النصف من شعبان
Artinya: “Di antara amalan yang dianjurkan adalah menghidupkan malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dua malam hari raya, malam-malam sepuluh (awal) bulan Dzulhijjah, dan malam pertengahan bulan Sya‘ban.”
Pandangan serupa juga ditegaskan oleh ulama mazhab Syafi‘i, Syihabuddin al-Qalyubi, dalam Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala Syarh al-Minhaj, jilid 1, halaman 359 menjelaskan bahwa malam Nisfu Sya‘ban termasuk waktu yang dianjurkan untuk dihidupkan dengan ibadah karena menjadi mahal ijabah ad-du‘a (waktu terkabulnya doa).
Simak penjelasan berikut:











