JURNALINDONESIA.CO – Pada awal 2026, harga timah dunia melonjak di atas USD 51.000 per ton.
Harga timah di London Metal Exchange (LME) tercatat berada di kisaran USD 51.325 hingga USD 56.816 per ton, pada tanggal 22–23 Februari 2026.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch, Ferdy Hasiman, menjelaskan lonjakan harga timah akibat penertiban pertambangan tanpa izin (PETI) oleh Presiden Prabowo.
Sehingga pasokan lebih terkendali karena timah hanya dapat dipasarkan melalui jalur resmi, yang ikut menopang stabilitas harga timah di pasar global.
“Indonesia produsen nomor dua terbesar di dunia untuk timah. Ketika tambang-tambang ilegal itu ditertibkan, pasokan ke pasar jadi turun, dengan itu juga harga akan naik,” kata Ferdy dilansir dari kalibrasinews, Selasa (27/1/2026).
Dengan posisi Indonesia sebagai produsen timah nomor dua terbesar di dunia, kata Ferdy, seharusnya Indonesia bisa mengatur harga timah dunia.
Selama ini penambangan liar membuat produksi tidak terkontrol, akibatnya harga timah di pasar global jadi rendah.
“Sebenarnya Indonesia bisa mempengaruhi pasar. Tapi selama ini banyak orang yang jual timah diam-diam ke pasar. Makanya di pasar terlalu banyak pasokan,” jelasnya.
Ferdy mendukung keberanian Presiden Prabowo dalam memberantas tambang liar.
Sebelumnya, penertiban tambang liar hanya sebatas wacana.













