banner 728x90

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Makin Melemah, Sentuh Rp16.800

Ilustrasi foto uang tunai Rupiah. Foto: Istimewa
banner 468x60

JURNALINDONESIA.CO – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung melemah.

Dolar AS berada di level Rp16.800.

Melansir data Refinitiv, Rupiah ditutup Rp16.855/US$ pada perdagangan Rabu (14/1/2026).

Dilansir dari CNBC Indonesia,  di VIP Money Changer Menteng, Jakarta pada pukul 13.00 WIB kurs jual (rupiah ke dolar AS) masih berada di kisaran Rp16.930/US$.

Sementara kurs beli (dolar AS ke rupiah) Rp16.890/US$.

Adapun di tempat penukaran uang lain, seperti di Smart Deal menawarkan kurs yang masih sama dengan VIP, yakni untuk rate beli Rp 16.890/US$ sedangkan rate jual Rp 16.985/US$.

Sementara itu, di money changer Java Arta Valasindo untuk harga beli mereka terhadap dolar AS malah sudah jauh lebih rendah, yakni Rp 16.750/US$, namun rate jualnya sudah tembus ke level Rp 17.010/US$.

Adapun nilai kurs di bank beberapa memang sudah menyentuh kisaran atas Rp 16.900/US$.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.

“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” kata Erwin dalam pernyataan resmi.

Sehingga, kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date.

Meskipun demikian, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.

Erwin menegaskan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.

Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.

“Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar USD156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global,” paparnya.

Erwin menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses