banner 728x90

Catatan Kenangan: Selamat Jalan Profesor Bustami Rahman

Avatar
Prof Ibrahim, Rektor UBB. Foto: Istimewa
banner 468x60

Oleh: Ibrahim
Rektor Universitas Bangka Belitung

JURNALINDONESIA.COInilah kenangan tak ternilai seorang adik pada kakak sekaligus gurunya, yang lebih dulu berpulang.

Keduanya memiliki adab dan nilai luhur kehidupan yang tinggi, tak bermaksud menonjolkan diri.

Namun, dari buah pikir sang guru inilah, lahir sebuah Kampus Peradaban berstatus negeri, kebanggaan negeri.

Tulisan singkat dan bermakna ini dirangkai sang adik juga koleganya, Prof Ibrahim ketika melakukan perjalanan ke Yogyakarta.

Prof Ibrahim mengirimnya ke media, sebagai kenangan dan rasa cinta pada sang guru, Prof Bustami Rahman.


SORE Senin (17/11/2025) sekira pukul 15.30, saya sedang berbincang dengan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Devi Valeriani, dan Ketua Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan (LPMPP), Sujadmi, di ruang tamu Rektorat, mengambil posisi duduk persis di bawah foto Rektor pertama UBB, Profesor Bustami Rahman.

Di sela kami saling menimpali, tetiba Bu WR terdiam ketika membaca WA yang mengabarkan berita duka atas berpulangnya Prof.

Ya, kami memang terbiasa hanya memanggilnya dengan sebutan singkat: Prof.

Lebih kurang 13 tahun beliau menjadi satu-satunya Profesor yang dimiliki oleh UBB sebelum kami, anak didik akademiknya, satu persatu berhasil mengikuti jejak beliau, perdana saya pada penghujung 2022, disusul Prof Eries, dan terakhir baru saja Prof Dwi.

Pertemuan kami sore itu berubah menjadi kepanikan, beberapa staf kesekretariatan berteriak kecil di luar, rupanya berita duka cita menyebar dengan cepat.

Air mata tak terbendung, begitu keluar ruangan, beberapa mata berkaca-kaca dengan kepanikan yang sama berseliweran.

Saya sendiri, dengan lirih segera meminta diupayakan tiket untuk terbang ke Tanah Jogja, Negeri Sri Sultan, Bumi Jawa, tempat meninggalnya Prof Bustami.

Beruntung, maskapai sore hari masih memberi kesempatan. Meski di urutan penumpang terakhir menaiki pesawat, saya berhasil boarding dan transit menuju ke Jogja, berangkat untuk memberi penghormatan terakhir, tentu saja mewakili sivitas akademika Universitas Bangka Belitung.

Pada tanggal 27 September 2025, Prof sempat berkirim pesan ke saya, ijin untuk sementara berobat ke Jogjakarta menemani istri yang memang sejak lama rutin kontrol, sembari beliau bilang juga akan kontrol.

Di pesan itu, beliau mengatakan sudah ijin juga ke Dekan dan Ketua Program Studi untuk sementara mengalihkan bimbingan skripsi dan jadwal pengajaran.

Selanjutnya, komunikasi tidak terjalin beberapa waktu karena saat beliau masih aktif sebagai Ketua Dewan Pendidikan Provinsi dan saya sebagai sekretarisnya, beliau beberapa kali mengabarkan kontrol rutin ke Jogja, sekaligus melihat cucu-cucunya yang ada di Jogja.

Bagi kami, beliau adalah orang Bangka yang ‘Njogjani’, separuh hidupnya, cintanya, pencarian ilmunya, dan karakteri pribadinya adalah bentukan Jogja, separuhnya lagi melekat secara primordial sebagai Putra Belinyu yang berbapak orang Melayu Koba, beribu Tionghoa Merawang, dan cicit Demang Bahmim yang pernah berkuasa di Koba pada masa kolonial.

Bagi kami, beliau bukan hanya pendiri UBB yang kini berisi mahasiswa aktif lebih kurang 10 ribu dengan telah lebih dari 8 ribu alumni yang tersebar di berbagai bidang pengabdian itu, tapi juga guru bangsa, guru kampus, guru daerah, tempat kami semua belajar banyak hal.

Ia telah meninggalkan Jember setelah mengabdi lebih kurang 30 tahun di sana untuk merintis pendirian UBB ketika banyak kolega beliau mewanti-wanti untuk tidak berharap lebih.

Ia tinggalkan Jawa yang katanya kelak suatu saat akan menjadi halaman belakang karena kita akan menjadikan Laut China Selatan sebagai halaman depan untuk bertarung dengan warga-warga Asia Tenggara lainnya.

Ia melewati sejarah panjang kampus yang kompleks, mulai dari ijin operasional pendirian kampus, menggalang dukungan pemerintah daerah dan industri, meyakinkan pemerintah pusat, dan tak usah dibilang bagaimana ia gigih memperjuangkan penegerian.

Mimpinya agar Bangka Belitung mandiri dan berdaya dengan sumber daya manusia yang unggul di tingkat daerah adalah hal yang tidak bisa ditawar, status negeri pun diraih UBB pada 2010, sekaligus ia memimpinnya untuk periode awal.

Praktis ia menjadi Rektor selama 2006-2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses