banner 728x90

2 Guru Besar Asal Babel Wafat, Prof Bustami Rahman Sempat Tulis Kenangan Bareng Prof Djamaludin Ancok Saat di UGM Yogyakarta

Avatar
Prof Bustami Rahman. Foto: Istimewa
banner 468x60

JURNALINDONESIA.CO – Rektor pertama Universitas Bangka Belitung (UBB) Prof Bustami Rahman meninggal dunia, Senin (17/11/2025) sore.

Pria kelahiran Belinyu, Kabupaten Bangka itu wafat saat dalam perawatan di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Yogyakarta.

Guru Besar Sosiologi itu meninggal pukul 15.28 WIB dan akan dibawa ke rumah duka sore ini juga.

Profesor Bustami Rahman adalah tokoh pendidikan asal Bangka Belitung.

Dia dikenal sebagai ustaz, dai, mubalig, sekaligus akademisi dan entrepreneur.

Kabar meninggalnya Ketua Dewan Pendidikan Babel itu tersebar di Grup WhatsApp (WA).

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah meninggal dunia ayahanda kami, Bustami Rahman rahimahullah. Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu. Mohon maafkan almarhum jika ada kesalahan baik dalam perkataan maupun perbuatan,” demikian keterangan keluarga.

Prof Bustami Rahman lahir di Belinyu, pada tanggal 24 April 1951.

Almarhum dikenal luas sebagai tokoh yang mendalami bidang Dakwah dan Sosiologi Agama.

Dia meraih gelar profesor pada 2009 melalui pidato ilmiah berjudul Menegakkan Peradaban Bangsa.

Selain dikenal sebagai praktisi dakwah, Prof Bustami juga merupakan salah satu figur penting dalam perjalanan pendidikan tinggi di Bangka Belitung.

Berpulangnya, Prof Bustami menambah daftar Guru Besar asal Babel menghadap yang Maha Kuasa.

Sebelumnya, Prof Djamaludin Ancok, Guru Besar Psikologi UGM, wafat di rumahnya di Dusun Sambilegi Kidul, Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (15/3/2024) sekitar pukul 18.30 WIB.

Prof Djamaludin berasal dari Desa Mendobarat, Kabupaten Bangka yang juga bersahabat dengan Prof Bustami.

Prof Djamaludin adalah senior Prof Bustami Rahman di UGM.

Saat Prof Djamaludin meninggal, Prof Bustami menuliskan kenangan saat keduanya di Yogyakarta.

BANG DJAMAL

Saya kaget ketika membuka WA grup keluarga. Berita duka tiba-tiba saja menerpa.

Setengah tidak percaya, saya konfirmasi lagi apakah info itu benar, mohon direcek.

Ternyata sahih ketika ananda Faisal putera sulung beliau memastikannya.

Bang Djamal. Profesor Djamaludin Ancok, sang maestro telah meninggalkan kita selama-lamanya.

Banyak teman yang WA ke saya seolah kurang percaya bahwa beliau sudah wafat dengan tenang di rumahnya di Maguwo Jogja pada Jumat 15 Maret 2024.

Saya kurang tahu tepat kapan tanggal dan tahun lahirnya Bang Djamal.

Namun, usianya diperkirakan mencapai 79 tahun.

Beliau lebih senior seputar 4-5 tahun di atas saya.

Pada waktu saya memasuki UGM di awal 1971 beliau telah bertugas sebagai Asisten Dosen di Fakultas Psikologi UGM.

Pada waktu kami masih bersepeda onthel, sang asisten sudah bersepeda motor dinas plat merah milik UGM.

Di kalangan ISBA Jogjakarta, Bang Djamal sangat dikenal.

Dengan profil fisik yang menarik, tinggi badan diatas rata-rata, wajah dan senyum yang menawan, mudah untuk mengenalnya.

Belum lagi, penampilan pribadi yang atraktif, sangat pandai bergurau dan melontarkan cerita-cerita lucu membuat suasana selalu ceria.

Di penggalan ujung tahun 1970, saya menumpang kapal Sriwangka menuju Jakarta dalam rangka melanjutkan studi ke Jogjakarta.

Kota Jogja merupakan pilihan utama bagi anak-anak Bangka meneruskan studi mereka, selain ke Bandung, Jakarta, dan Bogor.

Para pelajar dan mahasiswa yang menumpang kapal, umumnya berada di atas dek kapal, mencari tempat duduk dan tidur masing-masing untuk bertahan selama 3×12 jam sebelum tiba di Tanjung Priok.

Saya pun mencari tempat untuk meletakkan tubuh dan duduk mencangkung di atas palka dek kapal.

Mata saya melirik kesana kemari mencari siapa tahu ada yang dikenal.

Ternyata tidak satu pun penumpang di atas dek itu yang saya kenal.

Kebanyakan teman-teman seangkatan sudah lebih awal berangkat ke Pulau Jawa.

Mata saya menangkap sosok pemuda yg lebih senior sedang duduk mencangkung juga, di sisi kanan berjarak beberapa meter dari posisi saya berada.

Biasanya anak-anak Bangka yang mau ke Jogja biasa bertanya atau diberitahu siapa yang bisa ditemui atau diminta bantuan ketika tiba di Jogja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses