JURNALINDONESIA.CO – Kisah tentang orang-orang yang terlibat PKI, mewarnai suasana bulan Oktober.
Pasalnya, pada tanggal 1 Oktober 1965, adalah momen wafatnya para Jenderal setelah diculik PKI.
Sejak saat itu, PKI dijadikan musuh bangsa, hingga ke akar-akarnya.
***
Seperti halnya sang suami, Soetanti Aidit juga menjadi pesakitan setelah Peristiwa Gerakan 30 September 1965 meletus.
Jika Aidit ditembak mati, Tanti, panggilan Sutanti Aidit, harus menghabiskan belasan tahun di penjara Orde Baru.
Aidit menikah dengan Tanti di Solo pada 1948.
Sebagaimana dikutip dari Majalah Intisari edisi 1964, Tanti adalah seorang dokter spesialis radiologi dan akupuntur yang juga seorang aktivis Gerwani.
Tanti adalah anak dari seorang kepala polisi di Semarang, dan cucu dari Bupati Tuban yang pertama.
Meski begitu, tulis Seno Gumira Ajidarma dalam “Sedikit Tentang Aidit..” di Majalah Intisari edisi September 2008, keluarga Tanti melakukan pemberontakan terhadap sikap konservatif dan pro-Belanda dalam keluarga besarnya.
Ayah Tanti ditembak saat Peristiwa Madiun 1948, sementara sang ibu adalah tokoh penting Gerwani yang juga sempat merasakan penjara Orde Baru.
Sutanti adalah dokter Indonesia pertama yang lulus dalam bidang radiologi dan akupunktur.
Sebagai dokter cemerlang, Sutanti pernah ketemu batunya.
Itu terjadi ketika Aidit sakit, padahal dia harus segera berbicara dalam pertemuan kader yang penting di luar kota.
Sutanti pun memberikan obat, yang harus dimakan empat kali dalam sehari.
Namun, setelah ditinggal sebentar, kenapa Aidit malah jadi tambah lemas dan pusingnya menjadi-jadi.
Ternyata, karena ingin segera sembuh, Aidit telah menelan obat yang mestinya ditelan empat kali dalam sehari itu sekaligus!
Tentu saja Tanti hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sebagaimana Adit, Tanti juga terempas oleh gelombang sejarah, dan keluarga mereka tercerai berai.













